Takut Hujan-Hujanan? Padahal Rasul SAW dan Sahabat Suka lho Hujan – Hujanan

Eh lagi musim Hujan Kan yah Untuk Wilayah Jakarta dan sekitarnya, sampe Kemaren ada hujan Es lho. nah teman apakah kalian termasuk dalam katagori yang takut mandi hujan??Atau malah ber riang gembira jika Hujan turun?

Inget ngga Di masa kecil dulu, kita  mungkin pernah bermain hujan, berlari-larian di bawah derasnya hujan, atau main bola di tengah guyuran hujan.Asyeekk yah,

Tapi, para orang tua sebaliknya selalu merasa khawatir dan melarang anak-anak mereka mandi hujan. Para orang tua takut anak-anak mereka menjadi sakit, masuk angin, demam ataupun pilek karena mandi hujan.

Lalu, bagaimana Islam memandangkan aktivitas mandi hujan. Apakah Rasulullah SAW melarang kita mandi hujan?

Budi Ashari Lc, penulis pada situs parenting nabawiyah, mengatakan ada hadist yang menjelaskan Rasulullah SAW pernah mandi hujan.

Dalam hadist riwayat Muslim, Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata,”Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kehujanan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan. Kami bertanya: Ya Rasulullah, mengapa kau lakukan ini?”

”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab,’Karena ia (hujan) baru saja datang dari Tuhannya ta’ala’.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi, dalam kitab Al Minhaj, menjelaskan makna hadist ini. Maknanya bahwa hujan adalah rahmat, ia baru saja diciptakan Allah ta’ala. Maka kita ambil keberkahannya.

Hadits ini juga menjadi dalil bagi pernyataan sahabat-sahabat bahwa dianjurkan saat hujan pertama untuk menyingkap –yang bukan aurat– agar terkena hujan.

”Ibnu Rajab dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para sahabat Nabi pun sengaja hujan-hujanan seperti Utsman bin Affan,” tulis Budi Ashari Lc yang jebolan Fakultas Hadits dan Studi Islam di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia ini

Demikian juga Abdullah bin Abbas, jika hujan turun dia berkata:”Wahai Ikrimah keluarkan pelana, keluarkan ini, keluarkan itu agar terkena hujan.”

Ibnu Rajab juga menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib jika sedang hujan, keluar untuk hujan-hujanan. Jika hujan mengenai kepalanya yang gundul itu, dia mengusapkan ke seluruh kepala, wajah dan badan kemudian berkata:”Keberkahan turun dari langit yang belum tersentuh tangan juga bejana.”

Abu al-Abbas Al Qurthubi juga menjelaskan,“Ini yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mencari keberkahan dengan hujan dan mencari obat. Karena Allah ta’ala telah menamainya rahmat, diberkahi, suci, sebab kehidupan dan menjauhkan dari hukuman.” (Al Mufhim).

Air Hujan juga Bermanfaat Untuk Kesuburan kandungan. ( والله أعلمُ بالـصـواب )

#jangantakutmandihujanyaah.

https://ellietta.yukbisnis.com/

Suir _suir ikan cakalang creative handmade Huhate_namlea Punya.

Yang Hari ini masih pada di kantor..
Lembur….
sambil Nunggu Waktu Berbuka Puasa…..
dan bingung mw Buka puasa Pake Apa???.Atau yang Di tinggal Sendirian di rumah dan malas masak tapi kangen makan ikan …, Anak Kosan buat Stok Di lemari.
kalo Ane sih ngga bingung , ( Hare gene udah ngga Zamane kale Bingung2). Ber-bekel Suir -suir ikan cakalang jadi ngga perlu bingung dan Ribet.


Karena suir -suir ikan cakalang ini Praktiss Abizz dan bisa di santap dengan nasi hangat, nasi goreng, bubur ataupun dengan Roti.terbuat dari ikan Cakalang Seger, tekturnya seperti Abon, lembut dan enak.

Bagi yang Penasaran dan minat.
Cuman yg Penasaran dan minat lho , Segera Di order.

Met Buka Puasa yah Guys bagi yang menjalankan puasa Hari Ini.

kota tanpa nama dan air mata

Awan bergerak dengan pola yang tak beraturan. Kota ini seperti tidak asing. Warna-warna perak yang terpantul di ujung-ujung genting seperti menyisakan ingatan dari sebuah masa.
Warna perak dengan ukiran pujian para malaikat untuk yang Maha Indah secara acak berganti-ganti dengan kepul asal kendaraan deru pikuk berteriak tentang banyak hati yang sepi. Aneh. Seperti amat sangat mengenal kesunyian yang berbicara atas nama sepi dan terus berbaur bersama udara, seperti senja yang begitu akrab melahirkan ketakutan akan sunyi, dan dari jendela kereta yang baru saja berhenti tepat menjelang matahari lenyap di batas hari, kubaca lagi alasan mengapa aku begitu saja mau datang ke kota ini.
”Babe, kalau kamu di sini, mungkin hanya kamu yang tahu betapa kesunyian ini sangat seperti detak jantung para penunggu ajal ketika mereka sekarat tetapi tidak tahu kapan sang pembebas itu datang untuk memisahkan rohku dari jiwa yang kerontang. Datanglah ya.”
Teks dari lelaki yang pernah menjadi udara dalam ruang-ruang hatiku masih kusimpan dan kuyakini bahwa setan penggoda Hawa juga ada di dalamnya untuk menyeretku mendatanginya. Aku pun tidak tahu apakah ini panggilan dari sebuah kerinduan yang pekat atau hanya ingin sekedar luapan keinginan untuk sekedar bercakap pada kenangan yang kadang tertinggal di antara gerak-gerak awan di suatu pagi. Sihirnya membuatku memenuhi panggilannya untuk sekedar bercakap beberapa patah rasa, dan pastinya adalah penjajah hati bernama rindu.
Pada senja yang gelisah, kujejakkan kaki di stasiun kotanya tempat dia dulu selalu menjemputku. Ah, peron yang tetap sama. Aku selalu suka kereta api karena aku mencintai setiap stasiun yang aku lewati. Di setiap stasiun, selalu kuamati gurat-gurat para penunggu peronnya, bangku-bangku kusam, sisa asap sigaret, penjual asongan yang renta, lalu-lalang orang dengan wajah yang perih, kecewa berkarat dengan sakit pecah di dada, petugas tiket yang meronta atas kemonotonan hidupnya. Entah, bagiku stasiun seperti sebuah fase terakhir dari setiap penantian dan awal dari sebuah harapan.
Ah, seperti harapanku dia akan menjemputku dan membawakan lagi sebuah romantisme usang berupa usapan tangannya yang kurindukan, bau tubuhnya menyentuh pipiku. Tapi harapan itu memang seperti istana pasir yang begitu rapuh ketika disentuh angin. Sampai senja yang menyisakan lolongan sunyi aku masih berdiri di sini. Dalam suatu ruang tunggu yang entah tiba-tiba menyeruak pekat. Dia belum datang, meskipun jarum berbunyi tik-tok ke sana kemari seperti celoteh burung kenari yang tak pernah berhenti. Stasiun dengan sunyi yang sekarat. Ketika sebuah batas tentang kesabaran hampir saja meloncat dari ruang-ruang dadaku, seorang perempuan renta seumuran nenekku menarik perhatianku. Baju gamis dengan gemerlap keemasan bersulam bunga mawar seperti sangat mengerti tentang arti kata sepi. Dia duduk sendirian dengan guratan sisa-sisa wajah mudanya yang pastinya dulu selalu mampu membuat jakun para lelaki begitu sulit untuk bergerak itu tampak memeluk sunyi. Sebuah ruang kosong yang getas juga yang begitu akrab itu tiba-tiba juga begitu ramah menyapaku. Aku pun menghampirinya. Seulas senyum indah di antara matanya yang penuh luka di dalam hatinya berkejap hidup. Tanda yang sangat.
”Kemarilah, Nak. Siapa yang kamu tunggu? Kenangankah?”
Dada ini seperti dirobek oleh pisau jagal penghukum mati. Semua cerita tentang robekan-robekan mimpi yang begitu rapat aku sembunyikan bahkan nafasku sendiri pun tak mampu menemukannya. Telanjang dalam sekejap. Sebuah desah mengalir untuk berlomba bersama air di sudut mataku seperti sebuah cap jempol kepasrahan para petani buta huruf yang tanahnya dibeli dengan harga semurah air mata hanya untuk sekedar membeli segala kemewahan ala manusia kota. Aku pun mengangguk dalam diam.
”Saya kemari dan setiap hari duduk di sini tidak menunggu siapa pun atau mau pergi ke suatu tempat. Tempat ini membuat saya merasa masih manusia. Saya ingin bercakap dengan manusia. Di sinilah saya masih mendengar suara manusia. Paling tidak suara pengumuman dari petugas ketika setiap kereta mau datang dan pergi. Ayolah, Nak, kita bercakap tentang apa saja, dengan suara dan dengan mata.”
Seperti membaca pikiranku yang sibuk dengan tanda tanya, nenek itu seperti haus akan kata-kata, bercakap seperti air bah. Seperti ribuan tahun tidak ada satu getar pun di rongga suaranya, dimuntahkannya semua kata-kata yang pastinya sudah begitu lama mengendap dalam pita suaranya yang sangat parau itu.
”Kapan kamu terakhir ke sini, Nak?”
”Lima belas tahun yang lalu, saat putik-putik kamboja di kampungku mulai berbunga, dan rembulan menjadi dua kali lebih besar dari biasanya.”
Sebuah tawa yang sengau dari suaranya yang parau membuatku sesaat tersedak. Satu getir yang pasti ada di antara gelaknya.
”Hahahaha…saat itu saya pun masih bercakap dan menyapa satu-satunya anak lelakiku dan suamiku juga masih setiap hari menyapaku dengan suaranya. Tapi mata dan suara sekarang lenyap dari kota ini. Bahkan teks pengganti suara itu pun sudah merenggut orang-orang yang aku cintai. Aku ada di depan mereka, tetapi aku tidak ada. Aku akan ada justru ketika aku tidak ada di depan mereka. Teks mereka akan mencariku. Pulanglah. Kalau yang kamu cari adalah hati yang mencintamu dan itu keluar dari sebuah suara dan mata, lupakanlah. Sudah lenyap di kota ini mata dan suara yang akan menyapamu hanya untuk sekedar mengucap salam ”selamat pagi” atau ”apa kabar”.
Ah, aku kasihan dengannya. Dia pasti sangat merindukan orang-orang itu. Bahkan, sekejap aku mulai meragukan kewarasan otaknya. Tetapi sebuah kenangan atas sebuah ingatan memperjelas jejak di hatiku, tetapi mungkin aku juga ingin tahu seperti apa kota tempat lelaki itu tinggal. Perempuan itu seperti tak henti mencoba menahanku untuk keluar dari stasiun ini, tetapi entah, tiba-tiba aku seperti harus membela diri tentang alasanku ke kota ini. Kota yang sungguh menyihir dengan kilaunya.
”Kalau kamu keluar dari stasiun ini, kamu akan menyesal, karena kamu akan mendengar detak jantung yang tersunyi dan lolongan kesedihan tanpa suara berdenyut di setiap nadi orang-orang yang kamu temui. Hidup dengan kelelahan yang sakit. Hidup tanpa suara apa-apa. Suara dan mata telah lama hilang dari kerongkongan dan hati. Sudahlah, Nak, jangan buang setiap detik kesempatan untuk bersuara dengan manusia hanya untuk pergi ke luar stasiun ini dan menyapa senyap di luar sana.”
Saat lonceng stasiun berdentang, aku mulai yakin dia hanya perempuan tua yang kesepian dan pikun. Aku pun pamit karena lelaki itu menyapaku di telepon genggamku, memintaku datang di sebuah restoran di sebuah mal. Masih meeting katanya. Darahku tak mampu membuatku berkompromi lagi dengan detakku.
”Aku menunggumu di sini, Nak. Aku yakin kamu akan memilih kembali menemuiku daripada harus berhadapan dengan hati-hati yang sunyi dan mata-mata yang penat di luar sana,” suara itu hanya sayup karena langkahku sudah jauh darinya.
Kota yang megah. Warna senja yang keemasan masih mampu memberi gambaran orang-orang yang berada di dalam kota ini. Halte-halte menjadi penuh. Klakson mobil dan deru motor bertalu-talu. Entah karena harapan yang menempel di awan yang makin membesar atau keriangan masa kanakkanakku timbul lagi, aku begitu gembira sepanjang jalan menuju mal tempat hati kami akan merapat. Bis kota yang lumayan teratur mendesakku menemuinya. Setelah beberapa saat aku baru sadar, tidak ada suara di dalam bis, semua menunduk dan menggerak-gerakkan jari-jemarinya di sebuah serupa telepon genggam bermain bersama burung yang marah.
Semua mengetik, tersenyum sendiri. Sebagian orang menyumbat kupingnya dengan earphone dan mengangguk-angguk sendiri mengikuti dentam musiknya. Aku mencoba tersenyum ke beberapa tapi dengan pandangan aneh, mereka membuatku merasa yang kulakukan itu salah. Ternyata, pemandangan ini pun kutemui di mal tempat kami bertemu. Dari pintu masuk hingga lokasi kami berjanji pemandangan yang sama. Orang menunduk menggerakkan jari jemari di telepon genggam mereka, orang-orang dengan punggung bungkuk dan orang-orang dengan kuping tersumpal dan mengangguk-angguk. Benar-benar tanpa suara manusia. Hanya musik-musik penghiburan yang memberi suara tentang grup band terkini. Entah meski baru sesaat aku mulai merindukan suara manusia yang bercakap. Aku mulai cemas memikirkan kata-kata perempuan itu, bagaimana kalau itu semua benar?
Senyum lelaki itu segera membuyarkan semut-semut ketakutanku. Mata itu tetap seperti dulu. Mata yang gelisah. Mata yang aku ingin kecup dan kubiarkan terpejam bersama damai yang dihembuskan sebuah pagi. Kami duduk di sebuah restoran dengan mata saling diam tanpa ada yang berani memulai kata. Aku mulai memintal harapan. Kusediakan hati untuk kabar tentang semua petualangannya, tentang semua negeri-negeri yang disinggahinya. Aku tunggu cerita tentang mekarnya bunga daffodil di negeri Balkan. Tapi begitulah, setiap harapan adalah ibu yang melahirkan kekecewaan. Tak lama dia menunduk, digerak-gerakkan jari jemarinya di atas telepon genggam. Persis orang-orang yang aku temui di sepanjang jalan dari stasiun. Aku mensunyi. Tanpa sadar aku tengok restoran itu, semua orang melakukan hal yang sama, termasuk para pelayan. Di sudut ruangan, sebuah keluarga besar yang pastinya memesan tempat itu untuk sebuah kebersamaan bernama hati juga melakukan hal yang sama: kepala menunduk, jari-jari bergerak. Istri entah berbicara dengan siapa dengan teksnya, suami mungkin mencumbu kekasih gelapnya di depan istrinya juga lewat teks. Anak-anaknya yang lebih besar sibuk membolak-balik komputer datar dengan jari-jarinya. Tidak ada satu pun suara di antara mereka juga. Bahkan, anak terkecilnya mengompol dan meronta termasuk dalam paket gaji besar para baby sitter yang jelas terlihat bahwa separuh dari konsetrasi para perempuan lugu dengan baju seragam bak rumah sakit itu juga ada di jari-jari mereka yang bergerak-gerak dengan keyakinan itu adalah identitas modern. Seperti air bah dengan berton-ton liter kesunyian menyengapku. Meskipun hanya dalam hitungan menit bersama lelaki itu, suara tiba-tiba menjadi senyap dan lenyap. Tidak ada lagi pancaran mata penuh rasa seperti dalam teks-teksnya yang menemani malam-malam pekat di antara geliat yang meruah di antara rinduku. Padahal dulu kami pernah menjelajahi rerumputan itu pada suatu malam yang sepi di mana suara malam sesekali berlalu lalang, lalu peluh yang masih mengalir harus sejenak berhenti, tetapi hati kami seperti dua kanak-kanak yang riuh berebut gulali yang kuyakini mewakili suara yang berdetak riuh dengan gembira. Detak jantung kami pun bergoresan mimpi. Sekarang detak itu berhenti. Diam. Mimpi pun pecah.
Ketika harapan mati, hati seperti porselin pecah tanpa suara. Retak dan melolong. Segera kutinggalkan lelaki dan mimpiku itu dengan airmata yang kupunguti satu persatu agar tidak berceceran di udara. Di mana rindu menjadi komoditas kata untuk dikirimkan lewat jajaran bunga di dalam teks? Aku baru-baru benar melihat bahwa hampir seluruh mal, dan seluruh kota ini sudah dikuasai oleh teks. Perempuan tua itu benar, orang-orang sudah tidak bisa lagi mengeluarkan suara. Pita suara mereka melekat menjadi satu karena lama tidak digunakan. Suara telah tergantikan teks. Ada berjuta-juta sistem messengger yang berlomba menawarkan kehebatannya masing-masing. Kota yang sudah dirajai teks. Bahkan lelaki itu pun mencariku dengan sebuah teks. Aku sekarang mengerti mengapa perempuan itu begitu parau suaranya karena pastinya dia selalu berusaha berperang melawan teks dengan suara. Sungguh suatu kesia-siaan. Aku berlari sekencang-kencangnya, dengan sebuah kerinduan maha dahsyat akan suara perempuan tua itu. Suara paraunya mendadak menjadi sangat merdu. Kota ini begitu sunyi. Banyak hati kering. Rapuh, tanpa suara tanpa tatapan mata. Tanpa air mata. Karena hanya tatapan mata yang mampu melahirkan air mata. Bumi yang paling subur adalah bumi yang menyimpan banyak air dan dikeluarkan menjadi mata air. Jiwa yang kerontang adalah jiwa yang tak mampu mengeluarkan air mata. Semua hal di kota ini harus mempunyai fungsi. Semua yang fungsional selalu diperintah otak, tanpa otak, hati hanya sebuah kesiaan-siaan. Mungkin begitulah syarat untuk menjadi penduduk kota ini. Perempuan tua itu masih di sana bercakap gembira dengan seorang penunggu kereta di bangku peron itu. Sesekali aku lihat matanya mengeluarkan suara melebihi suaranya yang tersengal parau. Mata yang bahagia karena menemukan suara untuk berbagi semua hati yang ada di mata.
”Ah, kesinilah…bergabung bersama kami. Kita bisa saling bicara tentang bunga rumput yang selalu kuat menyimpan kemarau, atau sekedar bicara tentang apa warna mimpimu nanti malam. Bicara apa saja tidak jadi soal, asal dengan suara dan mata.”
Demikianlah sampai ufuk menjelang kami saling bercerita apa saja, tentang mimpi-mimpi yang terjaga sebelum waktunya, tentang matahari yang mungkin berwarna ungu. Bicara apa saja. Berhari-hari kami masih saling bicara. Kami pun saling berjanji untuk selalu bertemu di waktu-waktu tertentu hanya untuk saling bicara tentang mata tentang suara yang kini semakin lancar mengalir dari hati. Bahkan sampai hari kematian perempuan tua itu, kami masih saling bicara banyak hal. Tentu saja dengan suara dan dengan mata. Karena tanpa tatapan mata, suara tidak akan bisa terdengar oleh hati dan tanpa suara maka kejernihan hati tidak bisa dilihat oleh jiwa. Suara hati adalah mata dari hidup ini .

Ubud, 2012
Sebuah catatan tentang crepe peach dan secangkir chai tea.

Bermunajat pada-MU (Catatan Ramadhan#28)

​*_“Engkaulah Zat yang telah membentukku, menciptakanku, dan menunjukkanku kepada jalan-jalan keimanan.”_*
*_“Engkaulah Zat yang telah mengajariku, memberikan kasih sayang kepadaku, dan menjadikan dadaku terbuka untuk menerima seruan Al-Qur’an.”_*
*_“Engkaulah Zat yang telah memberikan makan dan memberikan minum kepadaku tanpa banyak usaha.”_*
*_“Engkaulah Zat yang menutupi kekuranganku, melindungiku, menolongku, melimpahkan anugerah, dan kebaikan kepadaku.”_*
*_“Engkaulah Zat yang menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dari-Mu dengan rahmat dan kelembutan.”_*
*_“Engkaulah Zat yang telah menebarkan banyak kebaikan kepadaku di dunia dan melindungi cacatku dari pandangan mata mereka.”_*
*_“Demi Allah, apabila mereka mengetahui buruknya karakterku, tentulah mereka akan enggan mengucapkan salam kepadaku ketika bertemu denganku.”_*
*_“Akan tetapi Engkau telah melindungi cacat dan celaku.”_*
*_“Engkau juga telah bermurah hati dari ketergelinciranku dan kezalimanku.”_*
*_Hanya Engkaulah Zat yang berhak mendapatkan segala puji dan syukur dengan sepenuh perasaan, anggota tubuh, dan mulutku. Wahai Tuhanku, sungguh Engkau telah melimpahkan berbagai kenikmatan kepadaku.”_*
Dan tidak ada lagi alasan lain yang bisa menyebabkanku untuk tidak bersyukur kepada-Mu.

by: young leaders AQL46.

“Kami sanggup bersabar wahai Ayah!” (Catatan Ramadhan#27)

ﺫُﻛِﺮَ ﺃﻥ ﺍﺑﻨﺔ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺩﺧﻠﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺗﺒﻜﻲ، ﻭﻛﺎﻧﺖ ﻃﻔﻠﺔ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﺁﻧﺬﺍﻙ، ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻮﻡ ﻋﻴﺪ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ . ﻓﺴﺄﻟﻬﺎ: ﻣﺎﺫﺍ ﻳﺒﻜﻴﻚ؟.

Dikisahkan bahwa putri kecil Umar bin Abdul Aziz menangis tersedu di pangkuannya saat hari lebaran. Maka Umar bertanya, “Apa yg membuatmu menangis?!”.
ﻗﺎﻟﺖ: ﻛﻞ ﺍﻷﻃﻔﺎﻝ ﻳﺮﺗﺪﻭﻥ ﺛﻴﺎﺑﺎً ﺟﺪﻳﺪﺓ ! ﻭﺃﻧﺎ ﺍﺑﻨﺔ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺃﺭﺗﺪﻱ ﺛﻮﺑﺎً ﻗﺪﻳﻤﺎً !!.

Sang putri kecil menjawab, “Semua anak-anak memakai baju baru. Sementara aku yg putri seorang Amirul Mukminin memakai baju lama..!!”.
ﻓﺘﺄﺛﺮ ﻋﻤﺮ ﻟﺒﻜﺎﺋﻬﺎ ﻭﺫﻫﺐ ﺇﻟﻰ ﺧﺎﺯﻥ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﺎﻝ . ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻪ: ﺃﺗﺄﺫﻥ ﻟﻲ ﺃﻥ ﺃﺻﺮﻑ ﺭﺍﺗﺒﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺍﻟﻘﺎﺩﻡ ؟.

Umar gak kuasa mendengar tangis putrinya langsung menemui bendahara Baitul Maal dan berkata kepadanya, “Bisakah gajiku bulan depan engkau berikan sekarang ?
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﻟﺨﺎﺯﻥ: ﻭﻟﻢ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ؟ ﻓﺤﻜﻰ ﻟﻪ ﻋﻤﺮ !..

ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺨﺎﺯﻥː ﻻ ﻣﺎﻧﻊ، ﻭَ ﻟﻜﻦ ﺑﺸﺮﻁ ؟.

Bendahara bertanya, “Kok tumben wahai Amirul Mukminin, ada apa?!”. 
Umar pun menceritakan permasalahannya. Sehingga akhirnya bendahara memakluminya dan berkata, “Gaji bulan depan bisa saya berikan sekarang, tapi dengan satu syarat!.
ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ: ﻭﻣﺎ ﻫﻮ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﺮﻁ؟ !

Umar dg antusias bertanya, “Apa satu syarat itu?!”.
ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺨﺎﺯﻥ: ﺃﻥ ﺗﻀﻤﻦ ﻟﻲ ﺃﻥ ﺗﺒﻘﻰ ﺣﻴﺎً ﺣﺘﻰ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺍﻟﻘﺎﺩﻡ، ﻟﺘﻌﻤﻞ ﺑﺎﻷﺟﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﺮﻳﺪ ﺻﺮﻓﻪ ﻣﺴﺒﻘﺎ ؟!.

Bendahara menjawab, “Wahai Umar, sanggupkah engkau menjamin dirimu hidup sampai bulan depan, agar engkau bisa bekerja dg gaji yg telah aku berikan di awal ?
ﻓﺘﺮﻛﻪ ﻋﻤﺮ ﻭﻋﺎﺩ، ﻓﺴﺄﻟﻪ ﺃﺑﻨﺎﺅﻩ: ﻣﺎﺫﺍ ﻓﻌﻠﺖ ﻳﺎ ﺃﺑﺎﻧﺎ؟.

Mendengar syarat itu Umar langsung meninggalkan sang bendahara dan langsung pulang. Anak-anaknya bertanya, “Apa yg terjadi wahai ayahku?!”.
ﻗﺎﻝ: ﺃﺗﺼﺒﺮﻭﻥ ﻭ ﻧﺪﺧﻞ ﺟﻤﻴﻌًﺎ ﺍﻟﺠﻨﺔ، ﺃﻡ ﻻ ﺗﺼﺒﺮﻭﻥ ﻭﻳﺪﺧﻞ ﺃﺑﺎﻛﻢ ﺍﻟﻨﺎﺭ؟.

Umar menjawab, “Bisakah kalian sabar agar kita semua masuk surga; ataukah kalian tak sabar sehingga menyebabkan ayahmu masuk neraka?!”.
ﻗﺎﻟﻮﺍ: ﻧﺼﺒﺮ ﻳﺎ ﺃﺑﺎﻧﺎ !.

Mereka menjawab, “Kami sanggup bersabar wahai ayah!”.

By : kami akhwat tangguh.

Berharap masih bisa memelukmu 

​Tak ada byk kamera yg mengabadikan keberasamaan kita….

10 tahun yang lalu , ku habiskan waktu dan hari hari ku bersamamu di sebuah kota kecil  nan indah…..
kota kecil …yang di kelilingi oleh bukit2 kecil dan sungai2 kecil nan jernih…

kota kecil yang dipagari dengan laut nan biru…..

di ats bukit2 kecil itu terdapat sebuah batu yang di pahat menjadi sebuah nama…..

yaah masohi….

masohi mu….

masohi ku…

masohi kita kawan…

kota dimana kita mengawali mimpi kita dikampus putih…..
trakhir ku katakan bahwa aku rindu tiada tara akan kota ini.

Trakhir aku berjanji akan kembali dan berkumpul bersama mu dan juga yang lain.

dan terakhir yang ku dengar tentang mu…

ketika itu , dering telpon membangunkan ku dari mimpi ku…..
ada isyak tangis yang tak asing…..

dari seseorang yang dulu kita anggap adik kita terkecil…..

bahwa kau telah tiada….

bahwa ….. 

dan saat itu kawan…..

seperti ada sesuatu yg hilang dari diri ku selamanya.

kau tau kawan….

Aku masih menangisi mu  disini..

berharap dapat memeluk mu lagi.

ALLAH telah membebaskan mu …

dari dia yang menyakiti mu slalu…
may we meet again.

Tetangga ku dan Keimanan ku ( Catatan Ramadhan#26)

apa hubungannya tetangga dan keimanan??

dalam sebuah hadits Rasul SAW bersabda ” 

لاَ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ لاَ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ لاَ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ قَالُوا وَمَنْ ذَاكَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ قَالَ جَارٌ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

 “Tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman mereka bertanya: siapakah itu wahai Rasulullah beliau menjawab: orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” (Muttafaq ‘alaihi).
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim no. 47).
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” QS. An-Nisa [4]: 36
Nah maksudnya saya  menulis tentang tetangga adalah dikarenakan semua tetangga saya mulai ramai bersiap2 tuk mudik, cuman saya duank yang ngg mudik, 

sebagai muslim yang beriman kita wajib berbuat baik kpd tetangg kita dengan menjaga harta dan jiwanya dari berbagai gangguan , baik gangguan itu dari kita sendiri ataupun dari orang lain. jika tetangga kita bepergian atau mudik maka tugas kita adalah menjaga hartanya dari gangguan .

berbuat baiklah dengan menjaga harta dan rumah tetanggamu hingga mereka kembali.

semoga ALLAH meridhoi dan membalas kebaikan kita dengan surga karena kebaikan kita menjaga dan berbuat baik terhadap tetangga.

Kemenangan sesungguhnya ( Catatan Ramadhan#25)

Dan ketahuilah bahwa kemenangan yang sesungguhnya adalah kemenangan melawan hawa nafsu.

karena nafsu akan tunduk patuh pada godaan syaitan,

nafsu membawa kita pada sesuatu yang indah dipandang tapi terlaknat dimata ALLAH.

maka yang terbesar dari setiap perjuangan kita didunia ini adalah peperangan melawan hawa nafsu kita sendiri.agar tunduk patuh hanya pada ALLAH,

dan salah satu hikmah puasa adalah belajar menahan dan mengendalikan hawa nafsu .

semoga kita menjadi orang-orang yang mendapatkan kemenangan akbar , kemenangan sesungguhnya, di bulan Ramadhan kali ini.amiin

Zakat fitrah sebagai pembersih jiwa (Catatan Ramadhan#24)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

“Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (‘Id), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat (‘Id), maka itu adalah satu shadaqah dari shadaqah-shadaqah”.

Zakat fitrah hukumnya wajib bagi muslim laki,perempuan,budak,anak kecil atau besar, kaya dan miskin.

ALLAH mewajibkan zakat fitrah adalah untuk pembersihan jiwa, setelah sebulan dilatih menahan nafsu dan berpuasa.

pembersihan jiwa dari sifat kikir, tamak, dan teman2nya.
lalu berapakah ukuran zakat fitrah??

dalam sebuah hadits diswbutkan bahwa Rasul SAW bersabda :
عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ اَلْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى اَلْعَبْدِ وَالْحُرِّ, وَالذَّكَرِ, وَالْأُنْثَى, وَالصَّغِيرِ, وَالْكَبِيرِ, مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ اَلنَّاسِ إِلَى اَلصَّلَاةِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi hamba dan yang merdeka, bagi laki-laki dan perempuan, bagi anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar zakat tersebut ditunaikan sebelum manusia berangkat menuju shalat ‘ied.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984).

inget yah teman2 satu sho’ makanan pokok.

dan teman karena zakat berupakan kewajiban,dan setiap yang wajib jika tidak dilaksanakan akan mendapatkan dosa dan juga siksa sebagai atas ketidakpatuhan terhadap aturan ALLAH SWT, diantaranya : 

“Orang-orang yang menyimpan emas dan perak sementara mereka tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih. Pada hari dipanaskannya emas dan perak itu dalam neraka jahannam, lalu dahi-dahi, lambung-lambung, dan punggung-punggung mereka diseterika dengannya, dan dikatakan kepada mereka: ‘Inilah apa yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah akibatnya sekarang’.” (At-Taubah: 34-35)

Demikian pula keumuman hadits Abu Hurairah z:

مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لاَ يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ، فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ، فَيُكْوَى بَهَا جَنْبَهُ وَجَبِيْنَهُ وَظَهْرَهُ، كُلَّمَا بَرُدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ

“Tidak ada seorang pun pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan haknya, kecuali pada hari kiamat nanti dibuatkan untuknya lempeng-lempeng yang terbuat dari emas dan perak mereka sendiri bagaikan api. Kemudian lempeng-lempeng itu dipanaskan dalam neraka jahannam dan dengannya diseterikalah lambung, dahi, dan punggungnya. Setiap kali tubuhnya menjadi dingin kembali azab itu pun diulangi kembali atasnya. Demikianlah azab yang diterimanya pada hari yang lamanya sebanding dengan 50.000 tahun, hingga ada keputusan atas hamba-hamba Allah l, maka dia pun melihat jalannya menuju surga ataukah menuju neraka.” (HR. Muslim: 987)

#ayo_jangan_lupa_zakat

Berpalinglah dari Dunia dan siapkan bekal untuk mudik ke kampung Akhirat. (Catatan Ramadhan#23)

Di penghujung akhir Ramadhan kita selalu disibukkan dengan berbagai aktivitas tuk mempersiapkan pernak pernik lebaran, apalagi yang mau mudik ke kampung, semua peralatan tempur tuk mudik di siapkan , sesiap siapnya.hingga tiba waktunya kita mudik dengan hati yang senang dan riang gembira tanpa ada rasa khawatir dan was-was.

tahukah kita ..

persiapan mudik kita ke kampung kita yang sesungguhnya juga butuh persiapan yang matang dan sesiap-siapnya , agar tiba waktunya kita pulang , maka kita pulang dengan hati senang dan riang gembira.

Naah momen Ramadhan ini mengajarkan kita gimana siih caranya mudik yang aman dan bahagia.

yaitu dengan cara berpaling dari dunia…

ambil secukupnya ajah sesuai kebutuhan didunia dan jangan berlebihan.

sebagaimana di bulan Ramadhan ALLAH melatih kita tuk berpaling dari sesuatu yang mengoda saat kita sedang berpuasa disiang hari.

puasa menjadi Rem untuk hawa nafsu kita kepada dunia, 

dan puasa akan menjadikan mudik kita berarti, aman dan bahagia, 

semoga kita semua menjadi pribadi yang lulus ujian di bulan Ramadhan kali ini, hingga mendapat gelar Taqwa.

dan siap mengaplikasikan ketaqwaan kita di semua sisi kehidupan.
” Zuhud lah terhadap dunia, niscaya ALLAH akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, maka manusia akan mencintaimu” (H.R.Tirmidzi )

” Dunia itu disisi ALLAH sebanding dengan sayap seekor nyamuk ”
maka janganlah membuat diri dan tubuh kita mati-matian mengejar sesuatu yang nilainya hanya sama dengan sayap seekor nyamuk.

Hapuslah semua kesedihan dengan sedekah ( Catatan Ramadhan#22)

hapuslah semua rasa gundah gulana dihati dengan 1 langkah pasti,

SEDEKAH”.

” Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan ( yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan harta yang kamu cintai.dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui” (Q..Ali imran:92)

dan rasul kita bersabda 

” Wahai anakk adam, sesungguhnya bila kamu menyerahkan kelebihan  sesuatu adalah l3bih baik bagimu.sedangkan bila kamu mengekangnya,maka hal itu lebih buruk bagimu.dan tidaklah tercela menahan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan,dan mulailah dengan yang menjadi tanggungjawabmu.tangan diatas adalah lebih baikdaripada tangan dibawah ”

mulai sekarang jika ada suatu kelebihan dalam harta kita,maka kita sedekahkan, dan diniatkan semata-mata tuk ALLAH,karena itu merupakan kebajikan yang sempurna , dan setiap kebaikan yang kita lakukan akan mendatangkan kebahagiaan dan kesenangan pada Kalbu.

#ayo-sedekah

” Jangan tentukan harga dirimu kecuali dengan SURGA” (Catatan Ramadhan#21)

 Dalam buku Laa tahinuu walaa tahzanuu   Hasan Al-bashri mengatakan ” jangan tentukan harga dirimu, kecuali dengan surga.jiwa orang berIMAN itu mahal, tapi sebagian dari mereka justru menjualnya dengan harga yang murah”

sedangkan Ibnul Qayyim al-jauhziyah dalam buku yang sama mengatakan ” jika hanya ALLAH yang kamu tuju,maka kemulyaan akan datang dan mendekat padamu,serta segala keutaman akan menghampirimu”
kenapa harga diri orang beriman itu mahal??

karena teman, mereka hanya menyembah dan percaya 1 tuhan yaitu ALLAH..

mereka percaya kepada hari akhirat dan penghuni2nya…

kemudian mereka bertaqwa…

mereka menjaga diri tuk tidak meminta kepada selain ALLAH..

hingga ALLAH Ridho , dan mereka pun Ridho dengan apa yang ALLAH tetapkan untuk mereka..
kelebihan harta mereka bersyukur dan berderma..

kekurangan harta mereka ridho dan bersabar..

itulah yang membuat jiwa mereka berharga dari dunia dan seisinya.

dibulan Ramadhan ini mari kita belajar tuk melepaskan diri dari ketergantungan kita kepada yaang selain ALLAH,

Tips menjelang 10 malam terakhir Ramadhan *Oleh  Sheikh Tawfique Chowdhury ( Catatan Ramadhan#20)

​*Tips menjelang 10 malam terakhir Ramadhan*
Oleh  Sheikh Tawfique Chowdhury

1. Mulailah dengan niat yang bersih  dan tulus. Jika sampai hari ini ibadah terasa belum maksimal, bersiaplah untuk memaksimalkannya.Jika kau benar-benar ingin memperbaikinya, masih ada waktu!

2. Hari ini, bacalah tafsir surat AlQadr, dan pahami apa yang sesungguhnya terjadi pada malam lailatul qadr. Kau akan merasakan keagungan dan kekuatannya in syaa Allaah.
3. Jangan menunggu hingga malam ke 27 untuk mengerahkan segalanya.  Seluruh malam dari 10 malam terakhir seharusnya jadi targetmu. Bangunlah setiap malamnya. Jangan sampai lailatul qadr terlewati begitu saja.
4. Jangan ikut-ikutan dengan perayaan-perayaan atau kegiatan-kegiatan yang diada-adakan (bid’ah) oleh kelompok-kelompok tertentu. Ikutilah sunnah nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam. Tuntunan beliau adalah : *”barangsiapa yang berjaga (tidak tidur) dan berdoa pada malam lailatul qadr dengan iman dan pengharapan akan ganjarannya, dosa-dosanya yang telah lalu, akan diampuni.”*
5. Hafalkan doa malam lailatul qadr yang diajarkan Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam ini : *”Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’ fu’anni (ya Allah, engkau maha pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunilah aku)”*
6. Siapkan daftar pendek doa doa untuk dipanjatkan. Ingat, ini adalah waktu yang sangat istimewa bagi seorang hamba. Malam Qadar! Malam ditetapkannya takdir! Pilihlah doa doa terbaik untuk agamamu, dunia akhiratmu dan keluargamu. Jangan lupakan saudara-saudaramu muslimin yang tengah kesusahan di berbagai belahan dunia. 
7. Sempatkan tidur siang sejenak jika memungkinkan. Jagalah perutmu agar tidak terlalu kenyang dan tidurlah segera setelah isha dan tarawih sekedar untuk menyegarkan diri.  Lalu bangunlah untuk beribadah.
8. Jangan lupakan keluargamu! Rasulullah  membangunkan para istrinya pada malam-malam ini. Anak-anakpun bisa diajak beribadah untuk beberapa saat, walau mungkin tidak selama orang dewasa. Siapkan, semangati dan motivasi mereka!
9. Cara kita berpakaian dan mempersiapkan diri berpengaruh secara psikologis. Pakailah pakaian yang bagus  dan wewangian (khusus di rumah untuk wanita) ketika beribadah.
10. Pilihlah spot khusus yang kondusif untuk beribadah, apakah itu di mesjid atau di rumah. Letakkan sajadah, mushaf dan air minum sehingga kita tidak perlu beranjak dari sana jika perlu minum.
11. Ini BUKAN malam untuk pasang status (misalnya : “alhamdulillaah, nikmatnya bermunajat kepada-NYA malam ini” dsb)  di FB atau media sosial apapun. Biarlah itu jadi rahasia indah antara hamba dengan Rabbnya. Maka, matikan dulu HP, tablet dan komputer. Putuskan dulu hubungan dengan dunia, dan nikmati jalinan hubungan dengan al-‘Afuww!
12. Jika mengantuk, maka variasikan bentuk ibadah antara shalat, bermunajat dan membaca Qur’an. Lakukan bergantian. Jangan habiskan malam untuk mendengarkan ceramah atau tilawah, atau kalau sangat ngantuk, dengarkan sebentar saja untuk mengusir kantuk.
13. Sabar adalah kuncinya. 10 malam terakhir mungkin akan sangat melelahkan. Anda mungkin masih harus bekerja, sekolah atau altifitas lainnya. Ini adalah saat untuk bersabar dengan kelelahan itu. Ingatlah Allah telah menganugrahimu dengan kesempatan berharga (akan luasnya ampunan) yang mungkin saja tidak datang lagi. Bukankah kita akan berlari walau apapun yang terjadi jika kita tahu pasti bahwa ini adalah ramadhan terakhir kita dan surga hanya selangkah lagi?
14. Ini yang paling penting : husnudzhon lah kepada Allah. Ketika bermunajat, ingatlah kau sedang meminta pada Raja Yang Maha Pemurah. Jika kau berharap yang terbaik, Dia akan memberimu yang terbaik. Jangan ragu-ragu, yakinlah dan tumpahkan seluruh isi hatimu di hadapan-NYA. Jangan biarkan keragu-keraguan dan prasangka buruk menjauhkanmu dari Arrahman Arrahiim.
Allahumma ballighna lail atal qadr.
Semangat dan optimalkan amal ibadah kita di 10 hari terakhir mohonlah kepada Allah agar kita diberikan kesabaran untuk bertemu dengan malam lailatul qadr.
Ya Allah Ya Rabb pertemukanlah hambamu dengan malam lailatul qadar di bulan ramadhan tahun ini. Aaminn.

____________________________

📝 Reposted by :

Group Dakwah Islam.