Takut Hujan-Hujanan? Padahal Rasul SAW dan Sahabat Suka lho Hujan – Hujanan

Eh lagi musim Hujan Kan yah Untuk Wilayah Jakarta dan sekitarnya, sampe Kemaren ada hujan Es lho. nah teman apakah kalian termasuk dalam katagori yang takut mandi hujan??Atau malah ber riang gembira jika Hujan turun?

Inget ngga Di masa kecil dulu, kita  mungkin pernah bermain hujan, berlari-larian di bawah derasnya hujan, atau main bola di tengah guyuran hujan.Asyeekk yah,

Tapi, para orang tua sebaliknya selalu merasa khawatir dan melarang anak-anak mereka mandi hujan. Para orang tua takut anak-anak mereka menjadi sakit, masuk angin, demam ataupun pilek karena mandi hujan.

Lalu, bagaimana Islam memandangkan aktivitas mandi hujan. Apakah Rasulullah SAW melarang kita mandi hujan?

Budi Ashari Lc, penulis pada situs parenting nabawiyah, mengatakan ada hadist yang menjelaskan Rasulullah SAW pernah mandi hujan.

Dalam hadist riwayat Muslim, Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata,”Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kehujanan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan. Kami bertanya: Ya Rasulullah, mengapa kau lakukan ini?”

”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab,’Karena ia (hujan) baru saja datang dari Tuhannya ta’ala’.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi, dalam kitab Al Minhaj, menjelaskan makna hadist ini. Maknanya bahwa hujan adalah rahmat, ia baru saja diciptakan Allah ta’ala. Maka kita ambil keberkahannya.

Hadits ini juga menjadi dalil bagi pernyataan sahabat-sahabat bahwa dianjurkan saat hujan pertama untuk menyingkap –yang bukan aurat– agar terkena hujan.

”Ibnu Rajab dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para sahabat Nabi pun sengaja hujan-hujanan seperti Utsman bin Affan,” tulis Budi Ashari Lc yang jebolan Fakultas Hadits dan Studi Islam di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia ini

Demikian juga Abdullah bin Abbas, jika hujan turun dia berkata:”Wahai Ikrimah keluarkan pelana, keluarkan ini, keluarkan itu agar terkena hujan.”

Ibnu Rajab juga menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib jika sedang hujan, keluar untuk hujan-hujanan. Jika hujan mengenai kepalanya yang gundul itu, dia mengusapkan ke seluruh kepala, wajah dan badan kemudian berkata:”Keberkahan turun dari langit yang belum tersentuh tangan juga bejana.”

Abu al-Abbas Al Qurthubi juga menjelaskan,“Ini yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mencari keberkahan dengan hujan dan mencari obat. Karena Allah ta’ala telah menamainya rahmat, diberkahi, suci, sebab kehidupan dan menjauhkan dari hukuman.” (Al Mufhim).

Air Hujan juga Bermanfaat Untuk Kesuburan kandungan. ( والله أعلمُ بالـصـواب )

#jangantakutmandihujanyaah.

https://ellietta.yukbisnis.com/

Iklan

Suir _suir ikan cakalang creative handmade Huhate_namlea Punya.

Yang Hari ini masih pada di kantor..
Lembur….
sambil Nunggu Waktu Berbuka Puasa…..
dan bingung mw Buka puasa Pake Apa???.Atau yang Di tinggal Sendirian di rumah dan malas masak tapi kangen makan ikan …, Anak Kosan buat Stok Di lemari.
kalo Ane sih ngga bingung , ( Hare gene udah ngga Zamane kale Bingung2). Ber-bekel Suir -suir ikan cakalang jadi ngga perlu bingung dan Ribet.


Karena suir -suir ikan cakalang ini Praktiss Abizz dan bisa di santap dengan nasi hangat, nasi goreng, bubur ataupun dengan Roti.terbuat dari ikan Cakalang Seger, tekturnya seperti Abon, lembut dan enak.

Bagi yang Penasaran dan minat.
Cuman yg Penasaran dan minat lho , Segera Di order.

Met Buka Puasa yah Guys bagi yang menjalankan puasa Hari Ini.

2018?? #Berjalan Bersama ALLAH

“Wahai diriku …. Manusia tidak perlu hidup di masa lalu, tetapi di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Lupakan beban penderitaan, lupakan segala duka dan memori pahit yang mungkin terpatri di otak. Buang semua itu dan tatap masa depan dengan tatapan baru. Jika kemarin berjalan tanpa melibatkan ALLAH, atau malah melupakan ALLAH, sekarang saatnya untuk berjalan bersama ALLAH dan mengingatNYA”.

( Ust.Yusuf Mansur, Buat Apa Susah 2008:7)

Senja Kamis Sore Di 16 November

Di antara Rintik-rintik hujan yg mulai  mengering….

Di sore ini….

Di 16 november.

di antara awan yang menggumpal..

dan sang matahari yang mulai tenggelam jauuh di ufuk barat.

antara penantian berbuka ..

di antara azan dan Iqomah…

ingin ku bisikan  beberapa kata pada sang khalik untuk mu…


ALLAH menjaga mu..

menjaga keluarga kecil mu..

memberkahi mu..

memberkahi keluarga kecil mu..

mewujudkan setiap harapan dan impian mu.



pada sang khalik ku titipkan dirimu padaNYA.





Jakarta,16 November 2017.

teruntuk sahabat kecil q.









Seperti Matahari Menyayangi Bumi.

kau tau matahari???

yaah dia menjauh dari bumi ….

agar bumi tetep aman tak terbakar dengan sinarnya..,


dan kau tau bumi??

bumi tiap pagi merindukan sinar hangat mentari…


yang dengannya kering embun di dedaun hijau..

yang dengan sinar hangatnya menjadi penerang …

dan menjadi mata untuk sang Bumi.

Wallahi, Andai matahari di tangan kanan ku dan bulan di tangan kiri ku.

Setelah kehabisan akal untuk menghentikan dakwah baginda Rasul Shallallau alayhi wasallam maka para pembesar Qurais menemui paman Nabi  Abu Thalib , mereka meminta kepada Abu Thalib untuk menghentikan Dakwah Islam yang dilakukan oleh Nabi.

maka berkatalah Paman Nabi kepada Rasul Shallallahu alayhi wasallam,

” Muhammad , kau tahu kan aku mencintai mu seperti anak ku sendiri”

” iya paman aku tahu kau sangat mencintai ku” 

“kau tahu kan aku sangat menyayangi mu sehingga aku membesarkan mu dan mendidikmu seperti anak ku sendiri”
” aku tahu itu paman ku”

” Wahai Muhammad, sesungguhnya para pembesar Qurais datang kepada ku, mereka mengatakan begini dan begitu kepada ku, maka Muhammad jangan kau membebani ku dengan urusan yang tak sanggup ku atasi.Muhammad aku meminta pada mu agar kau berhenti berdakwah, jangan lagi kau sebarkan Islam ini ”

mendengar apa yang di sampaikan oleh pamannya maka Berjatulah air mata beliau dan berkata,

“Wallahi, Demi ALLAH . seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kanan ku , dan bulan di tangan kiri ku ini niscaya aku tak akan menghentikan dakwah ku ini hingga ALLAH memenangkannya atau Aku binasa”

mendengar dan melihat tekad Nabi maka sang paman pun  berkata 

” Wahai Muhammad, sebarkan dakwah mu, dakwahlah sesukamu, aku ada di samping mu”

jika mereka saja tak pernah putus asa menyebarkan keburukan dan mengajak orang mengikuti mereka.

lalu kenapa kita  yang berputus asah dalam menebarkan dan mengajak orang berma’ruf nahi mungkar?
teruskanlah dakwah ini sampai ALLAH memenangkannya untuk kita, atau kita Binasa di jalan Dakwah.

Rasul Shallallahu alaihi wa sallam bersabda ” Sesungguhnya ALLAH dan malaikat-NYA serta penduduk langit dan bumi,sampai semut yang di sarangnya, bahkan ikan ( di lautan ), benar-benar bershalawat untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia “( HR.At-tirmidzi dan Ath-Thabrani dalam kitab Al-kabir dari Abu Umamah Al-bahili ra, Shahihul Jaami: 1838).

Mari Tenangkan hati dan Pikiran kita Sejenak.

Mari kita sama2 pulang ke rumah masing2, tenangkan hati dan Pikiran sejenak, lalu berAZZAM ( bertekad ) untuk Bersama-sama bahu membahu membangun dan menjaga Jakarta,

berAZZAM untuk tidak lagi membuang ludah / dahak seenaknya sambil mengendarai motor /mobil yang kemudian dahaknya di terbangkan dengan sepoi oleh angin jalanan dan nempel erat kayak permen karet di wajah pengendara motor di belakangnya.

berAZzAm untuk tetep menyimpan bungkus permen dalam tas / kantong ketika tidak menemukan tong sampah.

berAZZAM untuk mulai membagi sepertiga penghasilannya untuk sodara-sodaranya yang membutuhkan.
berAZZAM untuk mulai berjamaah membantu sodara-sodaranya agar terlepas dari hutang Riba.

 

karena duhai ….

Jakarta adalah ibu kota NKRI,

Jakarta adalah kota kita,

jakarta adalah milik kita bersama.

Siapa pun Pemimpinnya,

Jakarta itu tetep milik kita,

karena Setiap pemimpin akan digantikan dengan pemimpin yang lain,

Waktu/periode dapat menghilangkan pemimpin.

tapi masyarakat jakarta…

penduduk jakarta…..

kita yang berdiam di sini,

di atas tanah ini, 

akan selamanya mendiami dan berdiri di atas tanah ini..

Selamanya.
So….. 

#Ayo mari bergerak bersama

#Ayo mari berjuang bersama

#Ayo mari Maju Bersama

#Ayo mari kerja bersama.

Untuk Jakarta Kita yang lebih baik.

Berlaku adil lah dan Bersedekah serta Tinggalkan Riba.

​hukum dasar harta itu ada 3 yaitu :

1. Adil

maka adil yg di maksud adl berlaku adil dalam jual – beli. Bai’ ( jual-beli ) yaitu pertukaran harta dengan harta untuk di miliki.

manakala uang, komoditi, dan harta benda tersebar diantara manusia seluruhnya, dan kebutuhan manusia bergantung dengan apa yg ada di tangan temannya, dan ia tdk akan memberikanny kecuali dgn imbalan,maka ALLAH membolehkn jual-beli.untuk memenuhi kebutuhan sehari2, agar manusia tdk saling merampas, mencuri, melakukan tipu daya dan pembunuhan .
ALLAH menghalalkan jual-beli untuk merealisasikan kemaslahatan dan memadamkan kejahatan.

( lihat Q.S.2:275 ).

 ” ……padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”………….. 

2.Utama.

hukum dasar harta yg kedua adl utama yaitu Sedekah.

” Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan ( yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan harta yang kamu cintai.dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui” (Q..Ali imran:92).

Islam mengajak dan mendorong bersedekah sebagai kasih sayang kepada orang2 lemah dan membantu orang2 fakir, di tambah pahala yang diperoleh berlipat ganda. dan sedekah merupakan akhlak dan hobinya para Nabi dan orang2 Sholeh.

Rasulullah Shallallahu’alihi wasallam pernah ditanya oleh sahabatnya mengenai seorang peminta minta yang datang ke rumahnya sementara si sahabat tidak mempunyai apapun yang bisa di sedekahkan maka  Rasulullah Shallallahu’alihi wasallam menganjurkan sahabatnya untuk tetep bersedekah walaupun hanya dengan kuku binatang yang dibakar.

” jika engkau tidak mendapatkan sesuatu yang bisa engkau berikan padanya kecuali kuku binatang yang dibakar, maka berikanlah kepadanya ditangannya” ( H.R. Abu daud dan At-Tirmidzi).

Sedekah Itu Dari yang MAU, kepada orang yang BUTUH, dan..
“Ingat bahwa Sedekah Tidak Akan Mengurangi Harta” (HR Muslim).

3.Zalim

 maka Zalim dalam harta kekayaan adalah mempraktekkan RIBA dan semisalnya.
Riba adalah Tambahan dalam penjualan dua barang yang berlaku riba pada keduanya.
Riba adalah memakan harta manusia dengan cara yang bathil, dan termasuk dosa besar.sampai ALLAH dan Rasul-NYA mengumumkan perang kepada yang melakukannya.

  “Hai orang-orang beriman, bertakwalah pada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak melaksanakan (apa yang diperintahkan ini) maka ketahuilah, bahwa  Allah dan RosulNya akan memerangi mu dan jika kamu bertaubat maka bagi kamu pokok harta kamu, kamu tidak dianiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (Q.S.2:278-279).

dari Jabir r.a bahwa 
“Rasulullah Shallallahu’alihi wasallam mengutuk orang yang memakan Riba, mewakilkannya, penulisnya, dan dua orang saksinya, dan beliau bersabda ” mereka sama ( dalam hal dosa)” ( H.R.Muslim ).

Riba itu, mau kamu yang memakan , atau cuman menuliskan ( admin ), kamu cuman mewakilkan, bahkan kamu cuman menjadi saksi , sama saja dosanya.

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” .( Q.S.Ali imran :130)

” kitab fiqih islam -jual-beli.”

Harus Kembali Ke Titik Nol.

Ada saatnya kita manusia memilih tuk kembali ke titik nol.

titik dimana kita kembali ke saat-saat belum menjadi apa2 dan belum di bentuk.

titik dimana dari belum punya apa2 – trus punya apa2 – dan kembali lagi ke tak punya apa2.

di titik ini , hanya ALLAH yang kita punya,

hanya ada kita dan ALLAH.

sudah saatnya masing2 dari kita Harus Kembali Ke Titik Nol.

menjadi sesuatu yang belum dapat di sebut. ( liat Q.S.Al-insan:1)
dengan cara mengamalkan 1 ayat surah Ali Imran : 

​لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. ( Q.S.Ali Imran:92).

Dimulai Dari 1/3 Dan Rasakan Keajaiban.

Ada kekuatan baru di pasar dalam beberapa tahun belakangan ini yang digerakkan oleh individu dan korporasi yang ingin berbuat baik dalam ekonomi. Mereka ingin menyelaraskan antara tujuan untuk mencari untung dengan niat yang dianggap mulia. Bila di dunia pada umumnya hal ini dianggap pilihan baru dalam ber-ekonomi, di dunia Islam ini adalah keharusan. Bahkan ada petunjuk bagi kita agar pengelolaan harta kita itu berdampak bukan hanya pada diri dan keluarga kita, tetapi juga terhadap orang lain. Harta kita itu seperti roda gigi atau gear dalam system rotary gear yang menggerakkan mesin besar yang disebut Impact Economy.

Gear yang paling dalam adalah keluarga kita masing-masing, apa yang kita lakukan terhadap penghasilan dan harta kita akan sangat menentukan seperti apa ekonomi umat ini terbentuk. Agar sadar ataupun tidak sadar kita tidak menumbuh kembangkan system ekonomi kapitalisme ribawi – yang diharamkan oleh Allah, diancam akan dihancurkan dan bahkan Allah dan RasulNya menyatakan perang terhadapnya (QS 2:275, 276, 279) – maka kita harus mengelola harta kita mengikuti petunjukNya.

Contoh pengelolaan pendapatan dan kekayaan yang ideal, saya ambilkan dari hadits sahih yang diriwayatkan oleh Muslim, dan dikutib Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadus Shalihin sbb :

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “ Pada suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan :” Hujanilah kebun Fulan.” (suara tersebut bukan dari suara jin atau manusia, tapi dari sebagian malaikat). Lantas awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan airnya di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air (dia ikuti ke mana air itu berjalan). Lantas dia melihat laki-laki yang sedang berdiri di kebunnya. Dia memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya kepada pemilik kebun : “wahai Abdullah (hamba Allah), siapakah namamu ?”, pemilik kebun menjawab: “Fulan- yaitu nama yang dia dengar di awan tadi”. Pemilik kebun bertanya: “Wahai hambah Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku ?”. Dia menjawab, “ Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang inilah airnya. Suara itu menyatakan : Siramlah kebun Fulan – namamu. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini ?”. Pemilik kebun menjawab :”Bila kamu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (sebagai modal penanamannya kembali)”. (HR. Muslim).

 

Inilah yang menjadi dasar dari prinsip 1/3 dalam pengelolaan harta yang ideal. Yaitu 1/3 untuk sedekah, 1/3 untuk nafkah keluarga dan 1/3 untuk (re) investasi. Bila kita bisa melakukan pengelolan harta dengan prinsip 1/3 ini, maka insyaAllah ‘hujan’ akan turun ke kebun kita meskipun yang lain kekeringan – rezeki yang barokah tetap datang ke kita ketika yang lain tidak mendapatkannya.

 

Pengelolaan harta dengan prinsip ini, sejalan dan juga akan menggerakkan 3 roda berikutnya, yaitu tiga hal yang akan kita bawa mati sebagaimana hadits berikut :

 

Ketika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat , atau anak saleh yang mendoakan orang tuanya” (HR Muslim).

 

Dari yang 1/3 kita sedekahkan, sebagian menjadi sedekah jariyah yang akan menemani kita ketika tidak ada lagi di dunia ini. Yang 1/3 kita investasikan – sebagiannya diharapkan menjadi investasi yang paling baik yang tidak akan pernah mengalami kerugian – yaitu investasi pada ilmu yang bermanfaat.

 

Sedangkan 1/3 terakhir yang kita nafkahkan pada anak-anak dan istri kita, diharapkan bisa mengantarkan anak-anak tersebut menjadi anak yang saleh yang akan istiqomah mendoakan kita. Istri kita menjadi penyejuk pandangan kita baik selagi di dunia maupun di akhirat nanti.

 

Lantas dimana potensi ekonominya ? Perhatikan pada 1/3 yang pertama, yaitu yang kita sedekahkan. Berapa persen penghasilan Anda yang berada di bank ? well awalnya gaji lewat bank 100%, tetapi kemudian dikuras habis menjelang akhir bulan. Yang disimpan di asuransi, dana pensiun dan lain sebaginya jauh lebih kecil lagi. Dengan uang yang sedikit di bank , asuransi , dana pensiun dlsb., itupun yang di syariah sudah menjadi kekuatan yang begitu besar, yang nilainya mencapai sekitar US$ 1.8 trilyun di dunia. Inilah yang disebut pasar Islamic Finance.

 

Nah sekarang potensi ekonomi sedekah itu sebesar 1/3 penghasilan umat Islam, potensi wakaf adalah 1/3 dari kekayaannya. Bisa dibayangkan sekarang, siapapun yang bisa menggarap ini akan menjadi kekuatan ekonomi yang berdampak sangat besar – jauh lebih besar dari yang sudah terbentuk di pasar Islamic Market tersebut.

 

Lha apa umat mau membelanjakan harta begitu besar untuk sedekah dan wakaf ? Perlu edukasi memang , tetapi umat terdahulu mau melakukannya – mengapa umat sekarang tidak ? Budaya wakaf yang sangat massive ini – tidak hanya dicontohkan oleh para sahabat seperti Abu Talhah dan Umar bin Khattab, tetapi juga sampai berabad-abad kemudian.

 

Di jaman Salahuddin Al –Ayyubi (1137-1193) ketika orang-orang kaya berlomba dalam wakaf di berbagai bidang kebajikan, yang miskin-pun tidak mau ketinggalan. Ada yang berwakaf dengan piring, ada yang berwakaf dengan jasa perbaikan perabot rumah tangga dlsb.

 

Maka yang kita perlu lakukan hanya mengingatkan umat di jaman ini dengan satu ayat, dengan satu ayat ini – bila dihayati maknanya – orang akan berlomba-lomba berwakaf selagi sempat. Satu ayat ini adalah “Kamu sekali-kali tidak akan pernah sampai kepada Al-Birr (Surga) sampai kamu menafkahkan dari apa yang kamu cintai…” (QS 3:92). Hanya dengan satu ayat ini-pun cukup untuk menjadi modal bagi kebangkitan ekonomi umat yang massif !

 

Tidak sulit membayangkan layanan kesehatan sekelas Bymaristan – ketika orang sakit bukan hanya dilayani gratis sampai sembuh, tetapi ketika pulang masih diberi bekal uang dan baju baru – karena saat itu orang berlomba untuk bersedekah/berwakaf. Ulama-ulama akan focus mengembangkan ilmunya, para penemu dan innovator bisa focus pada karyanya – karena semua ada yang membiayainya lebih dari cukup.

 

Kemudian 1/3 bagian yang kedua yang digunakan untuk memberi nafkah keluarga, karena tujuannya adalah untuk menghadirkan anak-anak yang saleh dan istri yang menjadi penyejuk pandangan – maka sekolah-sekolah yang berbasis keimanan dan majlis-majlis ilmu akan kebanjiran peminat. Makanan-makanan yang halalan, thoyyiban dan azka tho’am – makanan yang paling murni – akan menjadi prioritas keluarga.

 

Industri pendidikan dan makanan yang berbeda dengan yang ada sekarang akan tumbuh pesat. Orang tua akan berubah dari target utama anak menjadi sarjana – seperti yang terjadi sekarang, menjadi targetnya anak saleh yang mandiri – karena kemandirian adalah bagian dari kesalehan itu sendiri. Menjadi sarjana dalam berbagai bidang akan menjadi nice to have, tetapi kesalehan dan kemandirian adalah yang must have.

 

Industri makanan akan berubah dari yang targetnya sekedar massal dan murah untuk menguasai pangsa pasar, menjadi industri makanan secara kecil namun menyebar dimana-mana. Mengapa demikian ? karena orang akan mementingkan – traceable food – yaitu makanan yang diketahui betul asal-usul bahannya sampai siapa yang memasaknya. Makanan yang enak tetapi tidak azka tho’am – yaitu makanan yang tercampur berbagai perasa yang tidak seharusnya ada di makanan akan ditinggalkan orang.

 

Kemudian untuk 1/3 terakhir yaitu yang diinvestasikan akan berubah orientasi. Kalau sekarang orientasi hasil investasi adalah yang memberikan imbal hasil materi yang tinggi, akan berubah menjadi bagaimana investasi itu akan mencerdaskan dan menjadi jalan untuk pengamalan ilmu yang bermanfaat – karena orang tahu bahwa ilmu yang bermanfaat inilah yang akan dibawa mati, bukan hasil investasi yang tinggi.

Walhasil, Impact Economy itu akan terbangun secara otomatis bila kita mengikuti petunjukNya ketika kita membelanjakan harta. Karena hanya tiga hal yang akan kita bawa mati, maka ‘check-list’-nya menjadi sederhana.

Yaitu pikirkan dampak dari setiap pengeluaran kita, apakah dia akan berdampak pada 1) sedekah jariyah, 2) ilmu yang bermanfaat , atau 3) anak saleh. Bila suatu pengeluaran bersifat netral dari ketiganya – artinya tidak berdampak apa-apa – maka pengeluaran tersebut tidak perlu menjadi prioritas. Bila dia bersifat negatif, yaitu menjauhkan salah satu dari tiga hal tersebut – dia perlu ditinggalkan, itulah Impact Economy bagi kita-kita.

 

By: http://www.geraidinar.com/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1929-impact-economy

Jika ALLAH menghendaki  apapun bisa terjadi.

jikalau ALLAH sudah berkehendak apapun bisa saja terjadi, sungguh sangat mudah bagi-NYA untuk melakukan apapun. 
apapun yg jika kita mampu menganalisis dan memahami yg terjadi maka kita akan terkagum2 dgn semua keajaiban yg ada.
Sebuah keajaiban kecil terjadi saat sedang mabit bersama yang muda yang berkarya di sebuah mesjid yg ada di jakarta.

kisah ini berawal dr insiden pop mie ( gegara pop mie,kita jd kenalan-begitu kira2 juduly) ,
jadi teman ku ini dia pengen bgt makan pop mie tp alhamdulillah si ibu2 yang jualan pop mie, dagangannya udh laris manis sehingga yg tersisa cmn air mineral.

saat ku lirik sebentar ku lihat ada raut sedih bercampur kelaparan di wajah teman yang baru saya kenal  itu.
karena udah malam kira2 jam 1.00 wib maka kami balik lagi ke mesjid dan bersiap2 tuk tidur sebentar agar bs bangun tuk menunaikan qiamul lail.

nyampe mesjid diriku langsung ambil tempat tuk tidur, tp tidak dgn teman baru ku, dia malah membuka alquran dan membaca beberapa surah , salah satu yg ku dengar sayup2 di telinga ku adalah ayat : Fa-biayyi alaa i_Rabbi kuma tukadzdziban ( artinya -maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?)

Sebelum mataku bener2 terpejam sempat ku bisikan beberapa kata di antara setengah sadar ku,

” Yaa Rabb, itu anak pengen Pop mie ,tolong kasih dia”

hanya kata itu , dan aku mulai pulas tertidur.

beberapa jam kemudian teman baru ku membangunkan ku dr lelapnya tidur,

” mau wudhu ngga, mumpung blom rame” katanya padaku, dengan wajah berseri2.tak ku lihat lagi wajah sedih dan kelaparan semalam.

sebelum diri ku beranjak ke tempat Wudhu dia berkata padaku dengan wajah yang masih berseri2 ,

“aku udah makan pop mie lho”

” iya???? dapat???beli dimana??” tanya ku.

“ngga beli ,dikasih sama ibu-ibu 2 lagi “jawabnya.

“kok bisa??” tanya ku bingung.

“iyah, tadi pas mau ke tempat wudhu ada ibu2 datang ke saya dan  ngasi pop mie.trus pas mau saya bayar katanya ngga usah neng, ini gratis kok jd ngg usah bayar ambil ajah”

Sambil menuruni anak tangga satu per satu menuju tempat wudhu dan berbicara pada diri sendiri, ” jika ALLAH sudah berkendak , apapun bisa terjadi”

Mungkin karena tilawahnya sebelum tidur, atau mungkin jg karena bisikan setengah sadar ku yang membuat ALLAH menggerakan hati seorang ibu yang tak dikenal datang dan memberikan 2 pop mie sekaligus. ALLAHU AKBAR!